Blog

Liputan6.com, BanjarnegaraKampung Kitiran belum setenar Dataran Tinggi Dieng atau Dieng yang sama-sama berada di Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah.

Kitiran dalam bahasa Indonesia berarti kincir angin. Kampung ini dipenuhi dengan berbagai macam kincir angin, mulai yang tradisional hingga modern. Tetapi, percayalah siapa pun yang pernah berkunjung bakal ketagihan.

Ditemani kopi pagi, destinasi wisata di Desa Pagak Kecamatan Purwareja Klampok, Banjarnegara, ini menawarkan beragam khazanah kehidupan pedesaan nan tradisional.

Kincir angin atau kitiran bambu misalnya, dibuat sedemikian rupa sehingga mampu melantunkan bebunyian unik khas alam pedesaan. Pada awalnya, mungkin sedikit berisik, tetapi lama kelamaan bebunyian ini mengingatkan kita pada padi-padi yang menguning.

Pengelola Desa Wisata Pagak Pradikta Dimas bercerita, sebagaimana pedesaan lainnya, sebagian besar warga Pagak berprofesi sebagai petani. Bagi warga, kitiran bukan hal baru. Kitiran bambu atau kincir angin tradisional adalah alat bantu petani untuk mengusir hama.

Sepanjang waktu, asal ada embusan angin, kitiran bambu ini bakal terus berunyi. “Kitirannya bunyi otok otok, kalau petani di sini sebagai pengusir hama tikus katanya,” ucapnya, kepada Liputan6.com, Rabu, 5 September 2018.

Saat ini, terdapat 10 kitiran besi dan puluhan kitiran bambu di Kampung Kitiran. Kincir angin tradisional ini tersebar, di berbagai sudut.

Rencananya, tahun ini monumen yang berfungsi sebagai gardu pandang juga akan beroperasi. Di atas monumen, bakal terpasang satu kitiran besar.

“Masih dibikin,” ujarnya.

Cita rasa tradisional juga meruap dari gubuk-gubuk yang tersebar di berbagai penjuru. Sementara, mata dimanjakan oleh bunga-bunga warna-warni dari taman bunga yang dibentuk dengan formasi tertentu. Harum kopi dan bunga di Kapung Kitiran, Banjarnegara adalah perpaduan yang sungguh eksotis.

Kapasitasnya cukup besar, sekitar 30 orang. Gubuk tradisional itu kini sudah banyak dimanfaatkan oleh pengunjung untuk silaturahmi dan rapat.

“Kami juga sedang mempersiapkan taman bermain anak anak, masih tradisional. Lumpur tengah sawah, biasanya buat main volley lumpur,” dia menerangkan.

Percaya tak percaya, tempat seindah ini belum diluncurkan secara komersial, alias gratis. Melihat keindahannya, destinasi wisata ini bakal menjadi andalan desa wisata Pagak saat diluncurkan pada akhir 2018 atau awal 2019 nanti.

Dimas beralasan, masih ada sejumlah wahana yang belum siap. Karenanya pengelola tak mau mengecewakan pengunjung.

“Masih free. Nggak bayar,” kata Dimas.

Pengalaman panjang menggelar berbagai acara bertajuk wisata membuat pengelola Desa Wisata Pagak tak mau terburu-buru membuka destinasi wisata jika belum benar-benar siap.

Hening Gendhing Malam 1 Suro

Beberapa even yang sudah pernah digelar di desa ini antara lain festival layang layang, Lomba volley lumpur, Lomba Inter-inter dan napeni beras dan Tour Sepeda Tua.

“Kita punya alat musik tradisional yang sempat punah, namanya Gumbeng terbuat dari bambu,” dia mengungkapkan.

Meski belum dibuka, bukan berarti Kampung Kitiran sepi dari kegiatan wisata. Malam 1 Sura atau 10 September 2018 esok misalnya, rencananya akan mempersembahkan gelaran kegiatan ‘Hening Gendhing Tengah Sawah’ sebagai wujud rasa syukur masyarakat Desa Pagak kepada Tuhan YME, atas berkah yang melimpah tahun ini.

Sebagaimana daerah agraris lainnya, Desa Pagak adalah penghasil berbagai komoditas penting pertanian seperti, padi, sayur mayur, hasil kebun, peternakan dan perikanan.

Ketua Pelaksana Kegiatan, Sidin mengatakan, dalam rangkaian gelaran hening gendhing tengah sawah ini dimulai dengan ziarah dan bersih makam sesepuh desa, sesuci dan kirab pusaka desa, Golong, doa bersama, dan Gluntang Kentong. Puncaknya adalah gendingan di tengah sawah Rawa Lutung, Desa Wisata Pagak.

Peserta Gendingan tak hanya berasal dari Desa Pagak. Panitia juga mengundang desa-desa di sekitar Pagak bahkan bisa sampai kabupaten tetangga seperti Purbalingga dan Banyumas. Desa Pagak, memang mudah dijangkau oleh dua kabupaten tetangga ini lantaran berada di ujung barat Banjarnegara.

“Untuk peserta yang ingin menyumbangkan performanya “Nggending” kami tidak memungut biaya apapun,” Sidin menegaskan.

Kepala Desa Pagak, Sudarwo mendukung penuh helatan 1 Sura nanti. Menurut dia, berbagai kegiatan yang di laksanakan sangat membantu pemerintah desa dalam merealisasikan program kerja dan visi misi desa.

Ia pun berkomitmen untuk terus mengembangkan potensi wisata di Desa Pagak. Salah satunya dengan penggelontoran dana desa.

Sumber Berita : www.liputan6.com
Kontributor Muhamad Ridlo

Tinggalkan Balasan