Blog

Rombongan kami selanjutnya menuju Desa Pagak Kecamatan Purworejo Klampok. Lhah, ke Klampok lagi? Melihat keramik lagi?

Haha…bukaaan… Tepatnya di Desa Pagak siang itu, kami menikmati kekayaan budaya Banjarnegara lainnya yaitu di bidang Kuliner dan Seni Musik.

Memang telah sedikit lewat dari waktu makan siang ketika kami sampai di Desa Pagak. Oleh karena itu, setelah menunaikan ibadah di masjid desa setempat kami pun bergegas menuju Balai Desa untuk menikmati hidangan makan siang yang sudah disediakan. Mau tahu menunya?

Soto, itulah menu makan siang yang telah disiapkan untuk kami santap dengan penuh rasa nikmat. Bukan soto sembarang soto lho, teman…

Soto yang kami santap siang itu menggunakan bumbu kacang sebagai pelengkapnya. Lugetdan gurih, lengkap dengan potongan-potongan ketupat dan kerupuk warna-warni di dalam mangkuk tersebut.

Oya ketupatnya istimewa juga lho.. Kupat Landan namanya. Penampilannya tidak putih bersih seperti ketupat biasanya, namun terlihat warna gelap di bagian tepi dan rasanya juga lebih gurih. Apa rahasianya? Dari informasi teman-teman peserta famtrip yang berasal dari Banjarnegara kami mendapat penjelasan bahwa ketupat ini berbeda karena direbus dengan air yang dicampur abu pelepah daun kelapa. Hm..pantas rasanya berbeda dengan ketupat biasanya.. Uenaaak…

Setelah menyantap semangkuk Soto dan mendinginkan tenggorokan dengan (lebih dari segelas) es teh, maka akupun bergegas mengikuti teman-teman lain menuju Pendopo yang berjarak beberapa rumah dari Balai Desa itu.

Di dalam pendopo telah siap beberapa orang bapak dan ibu yang bersila ataupun bersimpuh, masing-masing menghadap sebuah alat dari bambu.

Salah seorang bapak yang tampaknya merupakan pemimpinnya kemudian memberikan penjelasan kepada kami bahwa mereka akan memainkan GUMBENG.

Apa itu Gumbeng?

Gumbeng adalah nama alat musik tradisional yang terbuat dari bambu. Konon, awal pembuatan Gumbeng adalah kebutuhan para petani yang ingin hiburan merayakan hasil panen mereka, sekaligus sebagai persembahan rasa syukur kepada Dewi Sri yang dipercayai memberikan kelimpahan panen padi mereka. Kemudian berbekal ketersediaan bambu yang banyak di sekitar mereka, akhirnya para petani itupun berkreasi menciptakan suatu alat yang dapat menghasilkan bunyi-bunyian untuk mengiringi kidungan mereka.

Memainkan Gumbeng kemudian menjadi tradisi para petani setempat pada ‘pesta’ panen padi, juga dalam ritual-ritual budaya lainnya misalnya sebagai tolak balak / penolak malapetaka antara lain melalui tembang Dandang Gula .

Sempat ‘menghilang’ berpuluh tahun, baru akhir-akhir ini kesenian Gumbeng dihidupkan kembali dan diperkenalkan lagi ke masyarakat. Dalam suatu kelompok penampilan Gumbeng, diperlukan minimal 12 orang pemain, yaitu 4 orang memainkan alat musik Gumbeng, 2 orang memainkan Dendem, 2 orang menabuh Gong dan melodi, 2 orang memainkan kecruk dan 2 orang lagi memainkan keprak. Disamping itu dibutuhkan pula 1-2 orang sinden untuk melantunkan kidung / macapat.

Sore semakin terasa syahdu ketika kami mendengarkan alunan musik Gumbeng yang dimainkan oleh kelompok dari Desa Pagak tersebut, terutama saat Sang Sinden melantunkan tembang Dandang gula . Ingin rasanya terus duduk-duduk di sana menikmati teh hangat dan nyamikan yang tersedia sambil mendengarkan alunan Gumbeng dan suara merdu Sinden.

Sayangnya, waktu membatasi kebersamaan kami sore itu. Kami harus meninggalkan Desa Pagak untuk meneruskan perjalanan menuju ke Dieng, tujuan selanjutnya dari Famtrip Blogger dan Media yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata Kab Banjarnegara itu.

Untuk sementara kami harus mengucapkan selamat tinggal kepada warga Desa Pagak yang ramah-ramah, terima kasih Bapak-Ibu semuanya, atas kesempatan indah yang kami nikmati di sepenggal hari itu… Semoga di lain kesempatan kami dapat kembali lagi, mengeksplor keindahan lain dari Desa Gumelem dan Pagak di Banjarnegara. Aamiin…

Nah, itulah kisah jalan-jalanku menikmati keindahan budaya di Desa Gumelem dan Pagak, Oya teman-teman sudah pernah ke sini juga? Yuuk, share pengalamannya di kolom komen yaa

Catatan Peserta Famtrip Blogger Banjarnegara

Famtrip Banjarnegara (3) : Menikmati Keindahan Seni di Gumelem dan Pagak

Banjarnegara, The Heart of Central Java

Tinggalkan Balasan